Sunday, March 5, 2017

Pengembangan Aplikasi - Model Prototyping



Model prototyping ini sangat sesuai di terapkan untuk kondisi yang beresiko tinggi dimana masalah - masalah tidak terstruktur dengan baik, terdapat fluktuasi kebutuhan pemakai yang berubah dari waktu ke waktu yang tidak terduga. model ini juga dapat berjalan dengan maksimal pada situasi dimana sistem yang diarahkan adalah yang inovatif dan mutakhir sementara tahap penggunaan sistemnya relatif singkat.

Prototyping adalah proses interkatif dalam pengembangan sistem dimana requirement (suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh software) diubah kedalam sistem yang bekerja yang secara terus – menerus diperbaiki melalui kerja sama antar user dan analis.


jenis - jenis dari metode prototyping:
1.   Feasibility Prototyping, digunakan untuk menguji kelayakan dari teknologi yang akan digunakan untuk sistem informasi yang akan disusun.
2.   Requirement Prototyping, digunakan untuk mengetahui kebutuhan aktifitas bisnis user, adalah tahap interaksi intensif antara analisis system dengn komonitas pemakai sistem (end-user) diamna tim pengembangan system menunjukan keahlianya untuk mendapatkan tanggapan dan kepercayaaan pemakai, sehingga mendapat partisipasi yang baik.
3.   Desain prototyping digunakan untuk mendorong perancangan sistem informasi yang akan di gunakan.
4.   Implementation Prototyping merupakan lanjutan dari rancangan prototype langsung disusun sebagai suatu sistem informasi yang akan digunakan.

Kelebihan model protype:
1.   Penentuan kebutuhan lebih mudah di wujudkan
2.   Mempersingkat waktu pengembangan produk perangkat lunak
3.   Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelangan
4.   Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelangan
5.   Lebih menghemat waktu dalam pengembangan sistem
6.   Penerapan menjadi lebih mudah, karena pelangan mengetahui apa yang diharapkanya
Kekurangan model prototype:
1.   Proses dan analisis dan perancangan terlalu singkat
2.   Biasanya kurang fleksibel dalam menghadapi perubahan


Tahap – tahap model protype:
1.   Pengumpulan kebutuhan, pelangan dan pengembang sama – sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.
2.   Membangun prototyping, membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara Yang berfokus pada penyajian kepada pelangan (dengan membuat format input dan dan output).
3.   Evaluasi prototyping, evaluasi ini dilakukan oleh pelangan, apakah prototyping yang sudah di bangun sudah sesuai dengan keingina atau belum. Jika sudah sesuai, maka langkah selanjutnya akan di ambil. Namun jika tidak prototyping di revisi dengan mengulang langkah – langkah sebelumnya.
4.   Mengkodekan sistem, dalam tahap ini protyping yang sudah disepakati di terjemahkan kedalam bahasa pemrograman yang sesuai.
5.   Menguji sistem, setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang sudah di pakai, kemudian dilakukan proses pengujian ini dilakukan dengan white box, black box, basis path, pengujian arsitektur dan lain – lain.
6.   Evaluasi sistem, pelangan mengevaluasi apakah perangkat lunak yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan jika ya maka proses akan di lanjutkan ketahap selanjutnya, jika tidak dengan apa yang diharapkan maka tahapan selanjutnya aka diulang.
7.   Menggunakan sistem perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelangan siap untuk di gunakan.









No comments:

Post a Comment